Senin, 12 Januari 2015

HADIAH TERINDAH


Assalaamu'alaikum Wr. Wb. 

Sahabat Blogger semuanya, saya ingin sedikit berbagi Cerpen. Cerpen yang bertemakan romantis. Melukiskan Lebih baik Menikah dari pada Pacaran. Dan tulisan ini, melatih saya dalam membuat tulisan yang lebih baik lagi. Kalau di bilang cerpen sich, terlalu panjang ya. hehe. Tapi gpp lah. InsyaAllah saya mau jadikan ini sebuah Novel. Mohon komentarnya ya teman-teman :)

Terimakasih dan selamat Membaca :D :)




"Hadiah Terindah"




"Kalau di zaman Rasulullah saja bisa menikah dengan Aisyah r.a. tanpa serumah awalnya. Kenapa di zaman kita tidak bisa?"


Ungkapan lelaki setengah baya kepada anak perempuan satu-satunya yang bernama Siti Khumairah.





Mendengar tuturan Abinya ia sangat kaget. Bagaimana mungkin ia menikah dalam keadaan sekolah. Masih saja duduk di kelas 1 Aliyah.





Lebih baik Ijab-Qabul dari pada pacaran bukan?


Siapa yang pacaran Abi? Kan Siti hanya jatuh cinta padanya. Berbicara saja tidak pernah. Bagaimana mungkin Siti bisa berpacaran dengannya.


Memang pacaran tidak. Namun jatuh cinta itu membuatmu sering berkhayal yang tidak-tidak. Itulah yang akan membuatmu jatuh kepada zina hati. Dan itu juga salah satu dari penyakit hati.





“Makanya jangan jatuh cinta. Masih kecil sudah berani jatuh cinta. Kau pikir mudah untuk menanggung hati yang sedang jatuh cinta? Abi heran. Kenapa kau bisa jatuh cinta dengannya." Lanjut Ayahnya.


"Dia begitu sangat cool, dan menjaga pandangannya. Dia juga sangat pandai mengaji. Sangat fasih membaca Al-Qur'an dan pandai melagukannya. Dan sepertinya dia anak yang bisa dipercaya. Mungkin ini yang dikatakan anak muda zaman sekrang yang namanya cinta pada pandangan pertama ya Abi." Jelas anak gadisnya itu.





Mendengar penjelasan anaknya yang menurutnya cukup jenius, ia pun bergegas melamar anak dari sahabatnya itu. Ia tak ingin anaknya jatuh kepada zina hati. Dan ia sudah memikirkan masak-masak apa yang harus ia lakukan.





Dengan persyaratan yang ia ajukan pada anak yang bernama Muhammad Fauzan, dan memberi waktu satu minggu untuk berpikir. Tak disangka, anak itu berani menerima lamarannya.


Kenapa kau mau menerima lamaran ini? Padahal kau baru saja menjalankan kuliah tingkat kedua mu di Cairo. Apakah kau memang sudah jatuh cinta pada anakku?” Tanyanya dengan penasaran.


Bagaimana bisa saya bisa jatuh cinta hanya dengan melihat wajahnya dari photo saja. Bagi saya cinta itu bisa dibangun dalam ikrar yang sah. Dengan ingin mendapat ridho-Nya, dengan ingin melindungi anak Bapak dari zina hati, makanya saya mau menerimanya. Saya juga sudah shalat istikharah Pak. Dan Alhamdulillah, sepertinya Allah memudahkan hati ini untuk menerima semua persyaratan yang Bapak ajukan.” Jelas Fauzan dengan sangat dewasa.





Ia tak menyangka, seorang yang masih muda begitu sangat dewasa pemikirannya. Ia semakin yakin, bahwa pilihan putrinya itu tidak salah. Bahkan semua persyaratan untuk tidak serumah sampai anaknya tamat Aliyah, dan pernikahan hanya keluarga besar saja yang boleh tahu, dapat diterima dengan lapang dada oleh pemuda itu. Dan ia semakin yakin, anaknya akan semakin tumbuh dewasa bersamanya.





Itulah peristiwa tiga tahun silam yang Siti ingat sangat jelas. Sekarang ia sudah tamat Aliyah dan baru memulai kuliah. Ia ingin setelah tamat Aliyah langsung serumah saja dengan suaminya itu.


Jangan sekarang. Nanti saja dipertengahan kuliahmu. Atau maksimal setelah kau sarjana.” Tutur suaminya dengan jelas.


Abi memang memberi syarat untuk serumah setelah kau tamat Aliyah. Tapi waktu itu Abi juga mengatakan, kalau bisa selesai kau sarjana saja paling maksimal. Ya Abi tidak bisa berbuat apa-apa. Itu adalah keputusannya. Dan Abi harus menghormatinya seperti ia menghormati persayarat yang pernah Abi ajukan padanya. Tidak mudah membuat keputusan seperti yang ia lakuka Nak.” Jelas Abinya saat ia meminta untuk serumah dengan suaminya.





Mau tidak mau, Siti harus bersabar menunggu. Karena ini sudah kesepakatan antar dua lelaki yang ia cintai. Bukan tidak ingin bertanggung jawab. Namun ada hal lain yang harus suaminya lakukan. Ditambah lagi dia harus bolak-balik Cairo-Jakarta untuk menyelesaikan urusannya. Jadi tetap saja, saat-saat ini pun mereka masih jarang bertemu. Namun walau begitu, mereka seperti orang berpacaran saja. Bahkan lebih dari romantic. Walau jarak jauh, namun komunikasi selalu terjalin.





Di sore hari, heningnya di kediaman rumahnya. Sepi, senyap, dan begitu sepi. Siti duduk di samping jendela kaca yang menembus pandangan indah. Menanti seorang kekasih yang ia tunggu. Sambil menatap langit yang begitu kelabu. Menitihkan air hujan yang begitu banyak. Hujan yang begitu deras membasahi bumi.





Rumahnya saat itu tak ada penghuni kecuali dirinya. Karena Ummi dan Abinya pergi Umrah ke tanah suci. Bersama mertuanya juga. Awalnya ia diajak. Namun karena sudah janji terlebih dahulu dengan kekasihnya, ia pun tak ikut dengan keluarga besarnya itu. Baginya biarlah mereka menikmati besanan mereka tanpa anak-anaknya kali ini.





Walau ditinggal hatinya begitu bahagia. Karena menunggu kedatangan suaminya. Yang memenuhi janjinya untuk pergi jalan-jalan dan makan malam dimalam itu. Dimana hari itu adalah hari yang spesial untuk mereka. Yaitu hari dimana pertama kali mereka dijadikan. Di mulai pada tanggal 1 Mei.





Langit masih menitihkan airnya. Artinya hujan masih tak kunjung berhenti. Walau hujan semakin deras, tak tahu kenapa hatinya mengatakan suaminya pasti datang. Karena menurutnya, kalau tak ada gentaran petir ataupun badai yang mengancam, suaminya tetap akan datang.





Pukul menunjukkan 15.30 Wib. Sudah satu jam ia menunggu. Padahal janjinya mereka bertemu adalah setelah Ashar. Tapi satu jam dari sebelum Ashar, ia sudah bersiap-siap tak sabar menunggunya. Sangat aneh sifatnya saat itu.





Sambil menunggu di bawah jendela, yang masih dalam keadaan yang sama. Tiba-tiba terbesik di pikirannya yang menyuruhnya untuk mengingat masa-masa yang mereka lalui. Ia pun mengingatnya. Baik susah maupun senang, baik sehat maupun sakit. Selalu bersama dalam keadaan apapun yang terjadi. Walau badai yang begitu dahsyat yang sering menghantam hubungan mereka, tapi tak pernah goyah.





Ia pun mengingat tiga hal unik yang sering dilakukan suaminya itu secara berurutan padanya. Terutama disaat suaminya hendak pergi darinya. Dan tiga hal ini adalah hal yang paling tidak ia suka.





Yang pertama, kalau mereka berpisah, Fauzan selalu memeluknya. Namun tak pernah merangkul tubuhnya. Dan hanya melepas tangan begitu saja. Padahal Siti ingin sekali ketika dipeluk inginnya dirangkul. Kepala dan rambutnya ingin dibelai. Dan ketika ia meminta seperti itu, suaminya malah mengatakan,


Itu terlalu lebay. Lagian rambutmu bauk."


Hatinya geregetan. Ia jadi berpikir apa gunanya coba punya suami. Tapi tetap saja ia tak bisa berbuat apa. Ia hanya diam dan berkata,


Walau rambutku bauk, kau tak boleh berhenti memelukku." 


Dan Fauzan membalasnya dengan senyuman hangat.   





Yang kedua, saat dipeluk Suaminya selalu mengatakan “Uhibbuki”. Yang artinya "Aku Mencintaimu" dari bahasa Arab. Ia malah tak suka mendengarnya. Justru ia ingin mendengar dengan jelas darinya dengan kata “Aku Mencintaimu”. Karena baginya kata-kata itu lebih bisa dihayatinya. Dan setiap kali ia minta Fauzan untuk mengatakan itu hanya dijawab dengan,


Itu terlalu dramatis."


Mendengar jawaban yang sesimple itu, membuatnya semakin geregetan. Dan ia hanya bisa mebalas, “Uhibbuka Aidhon”. Yang artinya "Aku juga Mencintaimu". Karena ia tahu cinta suaminya begitu tulus untuknya.





Dan yang ketiga. Setelah memeluk, suaminya memberi senyuman hangat, lalu menyentil keningnya kemudian berkata,


Dasar jelek! Si jidad nongol nan lebar.”


Perlakuan ketiga ini benar-benar sangat membuatnya kesal. Baginya Fauzan yang sebagai suaminya nggak ada romantis-romantisnya sama sekali. Apa salahnya diganti dengan yang lebih romantis.


Misalnya setelah dipeluk kemudian mengecup keningnya. Seperti yang ada di drama-drama Korea, Jepang, atau di drama-drama romantis lainnya yang pernah ia tonton. Namun setiap kali ia meminta seperti itu malah dijawab,


Itu terlalu lebay! Lagian kalau kukecup, jidad nongol nan lebarmu jadi hilang. Di karenakan bibirku terlalu indah untuk mengecup keningmu”.


"Aaa.....!” Teriaknya dalam hati terbakar kesal.


Ia lagi-lagi berpikir, itukan emang seharusnya dilakukan seorang suami. Namun ia bertanya dengan nada sedih,


Terus, kenapa kau mau denganku?


Kemudian ia memegang kedua bahunya dan menjawab,


Karena matamu yang begitu indah."


Berbunga-bungalah hatinya ketika mendengar jawaban yang singkat itu dari suaminya. Walau tak pernah bersikap seromantis di drama-drama, tapi baginya sikapnya ini lebih dari romantic dalam menjalani hubungan kawin gantung mereka saat itu.





Itulah tiga hal unik yang selalu dilakukan Fauzan padanya ketika mereka akan berpisah. Mengingat kebiasaannya yang aneh itu, ia jadi tertawa sendirian. Walau ia tidak suka dengan hal itu, namun itulah bumbu-bumbu cinta dalam hubungan mereka. Baginya, Fauzan adalah laki-laki yang selalu ada buatnya.





Tepat di hari Anniversary mereka, Fauzan selalu membawa bunga untuknya. Mawar Putih. Padahal Siti ingin suaminya membawa bunga kesukaannnya si Mawar Merah. Sampai sekarang ia masih belum mengerti. Apa alasan suaminya memberi bunga kesukaan suaminya, bukan bunga kesukaannya. Biasanyakan kalau laki-laki itu suka memberikan apa yang disukai pasangannya. Bukan apa yang disukai olehnya sendiri.





Walau begitu, kedua Mawar Putih yang diberikan selama tiga tahun belakangan masih ada. Bahkan selalu dirawat hingga menjadi karangan bunga di taman rumahnya. Menjadi semakin terlihat cantik dan indah. Mawar-mawar yang berikan suaminya itu malah ada di hadapannya saat itu juga. Yang disirami hujan deras. Bunga yang selalu menyejukkan hatinya. Dan selalu membuatnya bahagia. Dan hari anniv ini, ia ingin jujur bahwa selama ini ia berbohong. Dengan mengatakan  Umminya lah yang membeli mawar putih itu. Padahal itu punyanya sendiri. 





Waktu terus berjalan. Ia melihat jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul empat sore. Adzan Ashar sudah berkumandang. Mungkin setengah jam dari sekarang Fauzan akan sampai. Kebetulan ia sedang dalam keadaan tidak shalat. Sambil menunggu kekasih datang, ia jadi berinisiatif untuk membuat kopi hangat.





Ia langsung menuju dapur untuk membuat dua gelas kopi. Satu kopi susu kesukaannya, dan satunya lagi kopi pahit kesukaan suaminya. Sambil membuatnya ia jadi mengingat setiap mereka minum kopi bersama. Lagi-lagi ia teringat hal yang menyebalkan dari suaminya.





Ketika pertama kali mereka minum bersama, Fauzan menghabiskan kopi susunya dan menyisakan seper enam darinya. Kemudian ia memaksa istrinya meminum setengah dari kopi pahit yang ia sisakan. Benar-benar menyebalkan sikapnya itu. Karena iastrinya tidak suka kopi pahit. Ketika itu pun Siti menolak untuk meminum sisa darinya. Lalu ia mengatakan seolah-olah mengancam.


“Kau harus minum setengah dari kopi pahitku ini. Karena aku sudah meminum kopimu. Jadi gantinya ya ini.


“Tapikan aku nggak  menyuruhmu minum kopiku!” Jawab Siti dengan kesal.


“Sudah minum saja!” Suruhnya.


Siti hanya diam dan ngambek. Lalu ia mulai memasang wajah serius dan bertanya,


Kau tahu kenapa aku melakukan ini?”


Tidak." Jawab Siti kesal.


Karena aku ingin kau seperti kopi itu." Jawabnya dengan canda.


Maksudnya? Kau ingin aku jadi pahit dan hitam? Teriak Siti semakin kesal.


Hahaha! Kau lucu sekali. Bukan, bukan itu."


Lalu?


Dengan wajah yang begitu serius ia mengatakan,


Aku Cuma ingin, kau juga merasakan hidup pahit bersamaku nanti. Tidak hanya senangnya saja. Tapi aku ingin kau selalu bersamaku. Di ibaratkan dari dua cangkir kopi kita ini. Aku meminum setengah dari kopi susu yang enak darimu. Dan kau meminum setengah dari kopi pahitku. Artinya, kau harus berbagi kesenangan dan kesusahan denganku. Begitu juga aku. Akan berbagi kehidupan senang padamu. Dan disaat aku dalam kesusahan pahitnya hidup, aku tidak ingin kau juga merasakannya. Tapi aku ingin kau selalu ada di sampingku. Mendukungku dan mensuportku setiap saatnya jika aku sedang jatuh. Dan selalu mendo’akan keadaan kita agar semakin membaik. Itulah maksud dan tujuanku. Kau mengerti?” Penjelasannya yang singkat dan pasti. Hingga membuat istrinya menitihkan air mata.


Kau kenapa? Jangan nangis hanya karena aku menyuruhmu minum kopi pahitku.”


Tidak. Bukan karena itu.”


Jadi?


Aku hanya tak menyangka. Kalau kau benar-benar serius bersamaku dan begitu mencintaiku." Jawabku sambil meneteskan air mata bahagia.


Hey! Sepertinya tadi aku tidak bilang kalau aku begitu mencintaimu. Katanya sambil meledek istrinya.


Ha....! Kau!” Teriak Siti dengan manja.


Haha! Sini sini! Ipun tertawa sambil merangkul dan menyapu kepala istrinya.





Dan seterusnya begitu. Ketika mereka minum bersama lagi hingga sekarang, Siti jadi benar-benar meminum kopi pahit yang disisakan untuknya.  Walau tidak enak dan sedikit jengkel, namun ia meminumnya dengan rasa cinta yang ia punya. Kopi yang awalnya terasa pahit, menjadi manis ketika ia meminumnya bersama Fauzan. Hm. Benar-benar lucu dan indah jika ia mengingat hal itu semua.





Ting Nung......


Bel rumahnya telah berbunyi. “Itu pasti dia. Tapi, kenapa suara motornya nggak kedengaran? Katanya dengan senang namun sedikit heran. Kebetulan ia sudah selesai membuat kopi. Dan ia pun langsung kedepan untuk membuka pintu. Namun sebelum membukanya, ia meletakkan kopi di meja ruang tamu terlebih dahulu.





Ternyata benar Fauzan yang datang. Namun ia basah kuyup dan sangat kaku juga telihat pucat karena kehujanan. Siti begitu khawatir.


"Kau, kenapa kehujanan? Motor mu mana? Tanya Siti sambil memegang badan dan kedua tangannya  yang kehujanan.





Tanpa menjelaskan apa-apa, Fauzan langsung memeluknya dengan hangat. Padahal ia sedang kehujanan. Siti heran. Karena ini kali pertamanya ketika mereka bertemu ia langsung dipeluk. Biasanya ia memeluknya ketika mereka berpisah atau hendak pergi dan pamitan dengannya.





Benar-benar erat dengan rangkulannya. Ia juga membelai kepala dan rambutnya dengan rasa sayang yang begitu dalam. Seolah-olah tak ingin melepas pelukan itu.


Badanmu sangat dingin. Kau kehujanan.”


Ia malah mengatakan,


Aku Mencintaimu, Aku Sangat Mencintaimu." Sambil memeluk dan membelai rambut istrinya.


Aku juga Mencintaimu. Sangat Mencintaimu." Balas Siti.





Siti begitu senang. Fauzan mengatakan cinta seperti yang ia inginkan. Begitu lama ia memeluk dengan badannya yang dingin. Setelah mengatakan itu, Siti berusaha melepas pelukannya. Namun ia tak mau melepasnya.


"Kau kenapa? Badanmu kehujanan. Aku ambilkan handuk dan pakaian ganti untukmu.” Tanya Siti dengan nada heran dan sangat lembut.


Sssst...! Sebentar lagi. Sebentar lagi.” Hanya itu yang dijawab Fauzan. Dan Siti pun tak lagi berusaha melepasnya. Kemudian lagi-lagi dengan kaku suaminya berkata,


Rambutmu harum sekali. Sangat harum.”


"Terimakasih. Lagian, rambutku kan emang harum. Kau saja yang baru merasakannya.” Jawabnya dengan canda lembut, berusaha menghilangkan kekakuan dari mereka.





Dalam pelukannya saat itu, ia merasa khawatir dengan sikapnya yang aneh. Juga merasa hawatir dengah badannya yang seperti itu. Namun seolah-olah suaminya seperti membaca perasaannya saati itu dan berkata,


Jangan hawatir. Aku selalu ada bersamamu. Aku sangat mencintaimu. Berbahagialah kelak sayang.”


Siti hanya diam dalam pelukannya. Dan tak dapat mencerna kata-kata yang diutarakan kekasihnya itu. Mungkin Karena ini pelukannya yang paling lama.





Sudah begitu lama berpelukkan, Fauzan melepaskan diri darinya. Melihat wajahnya yang semakin terlihat kedinginan dan kaku, yang terlihat sangat pucat. Tiba-tiba ia mengecup kening istrinya tanpa berkata-kata. Kemudian memberikan Mawar Putih yang juga basah kuyup. Lalu berkata,


Matamu yang indah, dan keningmu yang cantik, membuatku semakin mencintaimu.” Katanya yang telihat serius dengan gayanya yang kaku.





Siti terdiam sejenak dengan kecupannya yang selama ini tak pernah ia dapatkan. Ia terdiam dengan kata-kata yang sangat bebeda dari biasanya. Kemudian dengan menghilangkan keheningan, entah mengapa kali inipun Siti malah mengatakan kata-kata yang berbeda pula,


Makasih ya, kau banyak memujiku hari ini. Makasih juga atas bunga yang kau berikan ini. Bunga ini benar-benar indah. Bahkan sangat indah.” Sambil tersenyum untuknya.


Ya sudah. Aku ambil handuk dulu.” Sambung Siti dengan nada yang berbeda dari biasanya.


Oh iya, ini kopi sudah kubuatkan. Sambil menunggu hujan reda, kita ngopi bareng dulu ya.” 


Ia pun bejalan menuju kamar. Ketika melangkah beberapa langkah darinya, Fauzan berkata,


Mulai sekarang, aku tidak akan memaksamu lagi untuk meminum kopiku.” Jelasnya dengan wajah yang seperti tak rela. Mendengar itu Siti benar-benar terheran.


Baguslah. Itu artinya, aku tidak meminum kopi pahitmu lagikan?” Candanya sambil menyembunyikan rasa yang aneh.





Lalu ia langsung membalikkan badan.


Siti...


Ia pun berbalik melihatnya lagi.


Ya?


Hati-hati ya. Pesannya seolah-olah ia pergi jauh.


HmhmApaan sih? Aku kan cuma mau ke kamar.” Sahutnya.





Siti kembali mebalik badan, melangkahkan kakinya dan  pergi dari suaminya.  Ia pun masuk ke kamar. Ia mengambil handuk yang tergantung. Kemudian membuka lemari untuk mengambil pakaian ganti. Setelah itu ia keluar. Namun ketika membuka pintu, handphone nya berdering. Ia mengambilnya dan melihat, Randy sahabat kelasnya. Ketika hendak mengangkat, tiba-tiba mati.


"Hhh, ternyata hanya miscall.” Katanya sambil menghela nafas. Kemudian ia melihat dan memeriksanya. Wow...! 15 panggilan tak terjawab dari Rina sahabatnya, 18 panggilan tak terjawab juga dari Randy. Ia jadi penasaran dan bertanya-tanya. “Ada apa ya? Entahnya ada apa-apa atau sesuatu yang penting.





Ia mencoba menelpon Rina. Namun sebelum menelpon, Randy menelponnya kembali.


Assalamu’alaikum. Ya Rand. maaf ya, Handphone kutinggalkan di kamar. Jadi aku nggak dengar kalau ada yang menelpon.” Jelasnya


Namun Randy hanya menjawab,


Siti.....


Ya Rand, ada apa? Sepertinya ada yang penting ya?


Siti.....” Dengan nada lemas dan menangis.


Ya... Ada apa? Kau kenapa? Tanyanya semakin cemas.


Fauzan.... Fauzan Sit....”. 


Oh Fauzan. Fauzan kan….” Tiba-tiba di potong langsung oleh seseorang.


Siti! SitiIni aku Rina….!” Teriaknya dengan nada yang lemas.


Oh ya Rin, kau kok sama Randy? Ada apa? Kau juga tadi sibuk menelponku?


Sudah Sit, cepat datang ke rumah sakit!” Dengan terisak nangis.


Siapa yang sakit?” Dengan keheranan.


"Fauzan Sit, Fauzan kecelakaan, dan sekarang di rumah sakit. Kata dokter, nggak bisa diselamatkan lagi.


Apa? Kau becanda? Fauzan kan sekarang…” Lagi-lagi di potong Rina.


Aku nggak becanda Sit! Sekarang Fauzan sudah terbujur dihadapan kami, di rumah sakit! Hiiks hiks..” Yang menjelaskan dengan pasti sambil menangis, seolah-olah tak sanggup ingin memberitahu Siti.





Mendengar penjelasan yang begitu memastikan, tersentak Handphonenya jatuh dan terlepas dari genggamannya. Ia terdiam karena terpaku sambil meneteskan air mata. Dalam benaknya, ia masih tak percaya. Tubunya terasa kaku. Ingin bergerak, seolah-olah tak bisa bergerak.


Ia melangkahkan kaki. Ingin berlari sekuat tenaga menuju ruang tamu. Namun tak bisa berlari kencang. Kakinya bergetar seolah-olah sangat berat. Bagaikan ia berlari dengan diselimuti es batu yang besar. Jantungnya berdetak sangat kencang. Darahnya seperti air terjun yang mengalir deras. Hingga ia sampai keruang tamu. Tapi ia tak melihat Fauzan sama sekali. Ia mencari sekeliling rumah, hingga keluar rumah menembus hujan.


Fauzan... Fauzan… Fauzan…..!” Teriaknya yang awalnya pelan kemudian lama-lama mengeras sambil menangis.


Nggak mungkin. Nggak mungkin. Aku nggak percaya.” Hanya kata itu yang bisa ia ucapkan.



Tak peduli derasnya hujan, ia terus berlari menembus jalan besar. Sambil menangis seperti orang kehilangan tak tau arah. Bingung ingin mencari kemana.





Agak lama ia berjalan, kebetulan ada taksi yang lewat. Ia memanggil taksi dan meminta sopir itu menuju rumah sakit. Dengan tangis yang luar biasa, hampir ia tak mampu untuk bicara. Dan sopir itupun sangat khawatir dengan keadaannya saat itu. Hingga di dalam taksi, ia terus menangis, menangis, dan menangis. Hingga sopir itu angkat bicara.


Istighfar Nak. Yang sabarApa pun yang terjadi memang harus terjadi. Itu sudah jalannya.” Kata Pak sopir, seolah-olah mengetahui masalahnya dan berusaha menenangkan pikirannya saat itu.


Iya Pak. Terimakasih.” Hanya itu yang dapat ia katakan saat itu dengan terus-terusan menangis tanpa memikirkah hal lain.




Sampailah Siti di rumah sakit. Ia keluar dari taksi dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada sopir itu. Lalu ia masuk. Berjalan dengan basah kuyup, tanpa mengenakan alas kaki sama sekali. Seperti orang kebingungan tiada arah, ia menuju receptionist dan bertanya pada suster. Lalu menuju ruangan yang dimana lokasi suaminya terbujur.





Ia melangkah hampir tak sanggup lagi. Melangkah terus melangkah. Menangis terus menangis. Dan berkali-kali menghapus air mata dengan jari jemarinya. Dalam perjalanan, dalam benaknya ia berharap semua berita itu bohong, atau kejutan, atau hanya candaan. Ia berharap ini semua cuma mimpi. Itu saja yang ada dipikirkannya.





Sampailah ia di ruang Mawar-03. Ia melihat dari luar yang terbujur ditutupi dengan selimut putih. Melihat Randy dan Rina sedang menantinya dalam keheningan. Ia berjalan dan masuk selangkah demi selangkah. Dan mereka melihatnya dengan yang keadaan basah kuyup, tanpa alas kaki yang sambil membawa mawar putih yang ia bawa dari rumah.


“Siti…Siti….” Rina yang memeluknya dengan tangisan yang seolah-olah menyuruh sahabatnya itu untuk sabar. Randy hanya menahan air mata.


Ia mendekati mayat itu. Lalu membuka selimut putih dari wajahnya. Dalam membukanya, lagi-lagi ia masih berharap kalau ini semua bohong, atau hanya mimpi, atau salah orang.





Namun ia tak bisa berkata-kata. Ia seolah-olah berhenti bernafas. Dadanya sesak, jantungnya seolah-olah berhenti. Melihat wajah kekasihnya yang sekarang ada dihadapannya terbujur menjadi mayat. Tak bisa bergerak sama sekali. Ia menangis.


Fauzan, hiks hiks hiks…. Fauzan. Kau... Kenapa kau disini? Bukankah tadi di rumah kau datang dan memelukku? Bangun. Ini becanda kan? Jangan becanda! Bilang sama mereka kalau ini semua bohong.


Rina mendekat, “Sabar Sit. Aku tahu ini berat, tapi kau harus ikhlas.” Kemudian Rina membuka selimutan dari badan Fauzan, dan menunjukkan tangannya padaku.

"Sit, dia menggenggam ini. Dari awal hingga sekarang, benda itu tak ada yang bisa melepaskan dari genggamannya." Kata Rina.





Siti melihat benda itu. Kotak merah seperti tempat perhiasan. Ia mengambilnya dari tangan Fauzan. Ternyata sangat mudah.


Ternyata dia ingin kau yang menerimanya secara langsung tanpa perantara. Jelas Randy dengan sedih.





Siti membukanya. Isinya sebuah Liontin berlian yang bersimbolkan hati. Ia jadi teringat, bahwa Liontin itu adalah Liontin yang ia pinta sewaktu mereka jalan-jalan ke Lombok. Tapi Fauzan nggak cukup uang untuk membelinya waktu itu. Dan sekarang, Liontin itu sudah ada ditangannya.


Ia menangis. Ia histeris. Ia memukul-mukul tubuhnya yang kaku. Lalu ia berkata panjang.


Kenapa? Kenapa kau pergi? Kenapa kau tinggalkan aku? Untuk apa kau mengecup keningku dan bilang karena mata yang indah dan keningku yang cantik, membuatmu semakin mencintaiku? Jika kecupan itu adalah pertama dan terakhir, lebih baik kau nggak usah mengecup keningku! Lebih baik kau menyentil jidadku setiap saat. Atau kau memukul jidadku sesukamu asal kau tidak pergi dariku.


Untuk apa kau bilang Uhibbuki kau ganti menjadi aku mencintaimu? Kalau kata-kata itu aku dengar untuk  pertama dan terakhir kalinya, Lebih baik aku tak mendengar kata-kata itu dari pada kau meninggalkan aku.


Dan untuk apa kau memelukku, merangkuldan membelai rambutku dan bilang rambutku harum?! Aku tak ingin mendengar itu.


Kan aku sudah bilang. Tidak apa-apa kau bilang rambutku bauk, asal kau tak akan berhenti memelukku.


Untuk apa kau lakukan tiga hal yang aku pinta, kalau itu adalah untuk pertama dan terakhir?! Bangun! Bangun kau Jelek!


Aku, Aku rela kau suruh minum kopi pahit sisamu. Aku rela! Bahkan semua kopi yang kau punya. Aku juga ikhlas kalau kau terus-terusan memberiku mawar putih. Bahkan setiap harinya. Asalkan kau bangun. Bangun……….!” Ocehnya sambil memeluk tubuhnya yang kaku.


Siti kau harus ikhlas, ini sudah takdir.” Kata Rina


Enggak! Nggak Rin! Dia harus dengar dulu, kalau aku suka dengan mawar yang dia berikan. dia harus tau, kalau mawar yang slama ini dia kasih udah aku tanam dan aku rawat di halaman rumahku. Dan dia juga harus jelaskan, kenapa dia malah memberiku mawar putih kesukaannya. Bukan mawar merah tanda Cinta, yang bunga itu adalah bunga kesukaanku. Hiks hiks.”





Randy mendekat.


Dia udah tau Sit, kalau kau suka bunga itu. Dia juga udah tau, kalau bunga mawar putih di halaman rumahmu adalah bunga pemberiannya.


Satu lagi, kenapa dia tidak memberimu mawar merah kesukaanmu, dari pada mawar putih kesukaannya. Yang pertama, karena dia ingin kau menerima apapun yang menjadi kesukaannya. Artinya kau harus mau menerima ia apa adanya. Yang kedua, katanya mawar merah hanya tanda cinta. Tanda cinta itu belum tentu cinta yang selamanya. Sedangkan mawar putih yang berarti ketulusan. Dia ingin membuktikan kalau dia sangat tulus mencintaimu sampai kapan pun. Itulah kenapa dia lebih memberimu mawar putih dibandingkan mawar merah." Jelas Randy dengan sangat telaten.





Siti hanya terdiam dalam tangisan. Semua telah terjadi, dan ia tak kuasa atas semuanya.


Ternyata, ketika Fauzan datang sewaktu di rumahnya adalah kedatangannya yang terakhir. Pantas saja ia memberikan pelukan yang berbeda dan memberi semua yang istrinya pinta selama ini. Dan awalnya ia pikir seorang Fauzan aneh tiba-tiba datang memeluknya, ternyata itu juga emang kebiasaannya. Yang mana pelukan itu adalah tanda perpisahan mereka untuk selama-lamanya.





Pantas saja Fauzan memberinya pesan terakhir "Hati hati ya.” Ternyata kekasihnya itulah yang ingin meninggalkan dirinya untuk selamanya dan tak akan pernah kembali lagi.





Waktu terus berlalu. Setelah selesai pemakaman, ia pulang ke rumah. Setelah sampai, ia langsung ke dapur membuatkan minuman untuk Rina dan yang lain yang ada di rumahnya. Lalu ia melihat dua cangkir kopi yang masih terletak di dapur. Ia heran. Susu kopinya tak usak sedikitpun.


Namun kopi pahit di gelas itu habis tak tersisa. Ia ke depan dan bertanya pada Rina.


Rin, kopi itu siapa yang letak ke dapur?


Oh. Tadi waktu aku kesini bareng kamu, aku yang meletakkannya ke dapur.


"Terus, kamu yang minum kopinya? Soalnya aku lihat gelasnya sudah kosong. Setahuku kau tak suka kopikan?


Nggak tuh. Waktu aku ingin beresin, memang tinggal segelas yang utuh.


Atau kamu Rand?” Tanyanya pada Randy.


Nggak kok. Randy kan nggak suka kopi. Itu benar-benar aku yang letak sebelum ada yang datang kesini. Emang kenapa Sit?” Tanya Rina balik.


Nggak apa-apa kok. Hm. Aku ke dapur dulu ya.” Alasannya yang langsung ke dapur.





Ia menangis dengan melihat gelas itu. Ia semakin paham maksudnya. Ternyata Fauzan benar-benar tidak mau kalau ia meminum kopi Pahitnya lagi. Hingga Fauzan menghabiskan kopi yang ia buatkan terakhir kali untuknya. Ia terus menangis dengan membayangkan, bahwa ia tak akan pernah lagi meminum sisa kopi pahit darinya. Ibarat dua cangkir kopi itu benar-benar tidak ia rasakan lagi. Ibarat kata-kata yang pernah dijelaskan padanya, benar-benar sudah tidak ada lagi.





Dan kini ia baru sadar. Sudah genap tiga tahun mereka bersama. Ia tak menyangka. 1 Mei bukan hanya hari dimana pertama kali mereka bertemu. Tapi juga dimana terakhir kalinya mereka bertemu.


Sekarang, satu sisi ia benci dengan tanggal 1 Mei yang ia anggap menjadi kutukan baginya. Namun disisi lain, ia bahagia dengan tanggal itu yang mulai mengisi hari-hari bersamanya.





Waktu terus berputar. Sampai sekarang ia masih belum bisa melupakannya. Ia hanya sendiri seperti gadis yang tak bersuami. Menunggu datangnya hujan. Dan berharap setiap kali hujan datang, Fauzan pun datang untuk memeluknya lagi. Namun tak pernah datang lagi seperti waktu itu.





Sekarang gentian. Ia lah yang selalu datang padanya. Yang tak jauh dari rumahnya. Pemakaman almarhum kekasihnya. Ia selalu berdo’a untuk ketenangannya di sana. Dan ingin menunjukkan bahwasannya ia ikhlas atas kepergian Fauzan. Namun pada kenyataannya ia masih belum ikhlas.


Karena ia belum bisa melupakan kisahnya, semua kejadian ketika mereka bersama, dan selalu menceritakan kenangan-kenangan bersama para sahabat dan teman-temannya. Bahkan ia setiap hari datang kepemakaman suami yang sangat ia cintai itu.





Kalau orang-orang mendatangi pemakaman, pasti mereka membeli bunga yang berwarna-warni. Tapi tidak dengannya. Setiap kali ia datang, ia membawakan bunga yang dulu ia dapatkan dari Fauzan. Mawar Putih Kesukaannya.





Kalau dulu ia mendapatkan bunga itu sebagai tanda cinta yang tulus untuknya. Namun sekarang ia yang menaburkan bunga itu kembali dengan tanda cinta yang juga tulus untuk almarhum suaminya. Terkadang ia berpikir, mungkiini juga maksud dan tujuan kekasihnya memberikan bunga kesukaannya.





Semoga kau tenang di alam sana sayang. Setiap sujud dan do’a, selalu kulintaskan namamu. Kau harus tahu, aku bahagia tiga tahun mengenalmu dan hidup bersamamu. Aku juga tidak menyesal menerima perlakuan unik darimu. Namun aku menyesal, pernah meminta mengganti kebiasaanmu dengan apa yang aku suka. Tapi tetap saja, aku menganggap semua itu adalah HADIAH TERINDAH darimu.


Tuhan, Terimakasih atas seseorang yang Kau berikan untukku. Walau saat ini aku sudah menjadi seorang Janda, setidaknya Kau meridhoi semua perjalanan kami yang halal ini.”





Inilah masa muda seorang gadis selama masa Aliyah. Mungkin tidak sama dengan para remaja lainnya yang sibuk berpacaran, atau apapun itu. Tapi Dia, Fauzan. Berani mengambil keputusan yang sangat tak terduga. Bahwa Dia benar-benar menghalalkan cintanya, dan melindunginya dari zina hati. Bertanggung jawab, dengan Meng-Ijab Qabul kan dirinya.





Bagi Siti, tidak apa-apa kalau sekarang ia menjadi seorang Janda. Setidaknya ia mengalami pacaran setelah menikah, dengan ikrar yang sah dimata Tuhan. Dari pada ia menjalankan hidup dengan kesia-siaan. Ia juga yakin, Tuhan memberikan jalan hidup yang luar biasa, untuk semua hambanya.





The End.....


Bagaimana teman-teman? Hehe. Mohon komennya ya. Agar bisa di perbaiki tulisan saya yang tak seberapa. Dan membuat tulisan yang lebih baik lagi :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar